Kapan Perlu Migrasi Hosting?
Migrasi diperlukan saat performa lambat, biaya tidak efisien, support buruk, atau website outgrow paket saat ini. Perencanaan yang baik mencegah kehilangan data dan downtime panjang.
Tahap 1: Backup Lengkap
- Backup semua file via FTP, File Manager, atau fitur backup provider.
- Export database MySQL via phpMyAdmin atau mysqldump.
- Catat konfigurasi email, cron job, dan .htaccess custom.
Tahap 2: Siapkan Hosting Baru
Buat akun hosting, add domain, buat database baru, dan import SQL. Upload file website ke public_html. Update wp-config.php atau file config aplikasi dengan kredensial database baru.
Tahap 3: Tes Sebelum Go Live
Akses website via IP atau hosts file lokal untuk memastikan semua halaman, form, dan login berfungsi. Perbaiki path broken dan permission folder sebelum switch DNS.
Tahap 4: Turunkan TTL DNS
24–48 jam sebelum migrasi, turunkan TTL record DNS menjadi 300 detik (5 menit) agar propagasi setelah perubahan nameserver lebih cepat.
Tahap 5: Switch DNS / Nameserver
Update nameserver di registrar domain ke hosting baru. Propagasi global bisa 15 menit–48 jam. Monitor website dari berbagai ISP selama periode ini.
Tahap 6: Post-Migrasi
Aktifkan SSL di hosting baru, setup redirect HTTP ke HTTPS, dan pantau error log. Baru setelah stabil 1–2 minggu, nonaktifkan hosting lama.
Kesimpulan
Migrasi tanpa downtime bukan magic — kuncinya backup lengkap, tes menyeluruh, dan timing DNS yang tepat. Banyak provider menawarkan migrasi gratis jika Anda tidak ingin repot.
Top Up 